Side Story: 1 {DZAKARY-KAEL}


Why do we have to meet? Why does this meeting have to exist? {DZAKARY-KAEL}


Jika seharusnya kita tidak bertemu sejak awal, mungkin aku akan memiliki pasangan yang lebih manis dan perhatian kepadaku. 

Ada suatu saat aku berpikir bahwa seharusnya kita tidak perlu bertemu dari awal, rasanya sudah begitu mencekik saat mendengar kau adalah seseorang yang sudah memiliki satu hati dan membiarkannya tak berdetak kembali. 

Pertemuan kita selalu dianggap manis; saling bertemu di tempat yang sering kita kunjungi. Menabrakkan diri satu sama lain dan berpikir kita tidak akan mengenal satu sama lain setelahnya. 

Namun ternyata tidak, semuanya bergerak sebagaimana kau mengatur duniaku yang sudah melelahkan. Dengan bagaimana kau pergi dan kembali, terkadang membawa penderitaan atau tidak sama sekali. 

Seharusnya aku tidak usah menunggumu kembali saat itu, jika seseorang telah mengisi hatimu yang rapuh dan penuh luka. 

Kau terus ditaburi mawar berduri, sedangkan kau memaksaku untuk merasakannya juga. 

Tidak pernah aku mendengar bahwa kau sangat menginginkanku lewat perkataan hati, yang kulihat sewaktu itu di matamu hanyalah keinginan untuk memilikiku selayaknya pelacur yang kau tiduri. 

Tidak pernah aku berada di posisi yang sama dengan orang sebelumnya—yang mengisi hati kosongmu, yang melebur kasih sayang untukmu. 

Kau bilang jika sama halnya diriku dengannya, namun tidak ada satupun perilakumu yang persis sesaat orang itu di sampingmu. 

Kau terus pergi. Berkelana. Mencapai tanpa mengkhawatirkan apapun. 

Itu kau, Dzakary. Aku harap perasaanmu selesai di orang sebelumnya. Tidak menyamakanku lagi dengan perempuan yang memberi harapan tinggi sementara diriku adalah pemadamnya. 

Jangan samakan aku dengannya. Aku mohon. 


Kael Jauvenny to Dzakary Abreu Stevan. 
20 December, when the snow has fallen. 

Komentar